Tuesday, May 3, 2011

Pesona Bawah Laut Teluk Lewoleba Kabupaten Lembata

Teluk Lewoleba di Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata selain di Kenal memiliki potensi perikanan yang cukup bagus dan meiliki pemandangan yang indah ternyata menyimpan pesona bawah laut yang mempesona yang belum banyak diketahui oleh orang Lembata sendiri. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata bekerjasama dengan Universitas Nusa Cendana Kupang, Pada Tahun 2010 lalu melakukan survey dan foto bawah laut yang hasilnya cukup mengagumkan.
Ada beberapa titik yang diambil sampel dalam survey tersebut  dan salah satunya adalah Teluk Lewoleba yang terletak di Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata. Dari survei tersebut ternyata membuktikan bahwa sejumlah titik  Pantai dan di Teluk Lewoleba Kabupaten Lembata menyimpan pesona yang Indah dan Menawan dan salah satunya adalah Teluk Lewoleba. Foto-foto berikut ini adalah hasil jepretan kamera Tim Survey dari Universitas Nusa Cendana yang membuktikan bahwa potensi Wisata Kabupaten Lembata cukup bagus. 
Dalam Kaitan dengan pengembangan potensi pariwisata khususnya wisata bahari maka yang perlu diperhatikan adalah Insfrastruktur yang memadai. Insfrastruktur jalan, jembatan dan pelabuhan udara adalah 3 syarat utama yang harus dibenahi dalam waktu dekat guna mendukung pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Lembata.
Potensi Wisata Bahari yang bagus ini harus dikembangkan oleh pemerintah jika pemerintah menginginkan peningkatan pendapatan asli daerah kabupaten Lembata dan Peningkatan Ekonomi Lokal Masayarakat. Janganlah berpikir yang terlalu idealis dalam pembangunan ekonomi rakyat karena Pariwisata adalah jawaban dari semuanya itu.
Melihat kenyataan yang ada bahwa selama ini Pemerintah dan DPRD belum sepenuhnya mendukung pengembangan Potensi pariwisata Kabupaten Lembata. Mengacu pada hasil penelitian tersebut timbul suatu  pertanyaan mendasar apakah potensi ini akan dibiarkan begitu saja, daripada berbicara tentang potensi yang belum jelas buktinya mengapa kita tidak mengembangkan potensi ini. Foto-foto tersebut dapat menjadi data penting yang bisa mendorong pemerintah daerah Lembata untuk mengembangkan potensi ini. 

By...Haryanto Bungan, SS
Staff Perencanaan Program Disbudpar Lembata


 

Pantai Tapobaran dan Pesona Bawah Laut Yang Indah

Pantai Tapobaran di Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata tidak hanya indah pantainya dan pemandangannya saja namun menyimpan pesona bawah laut yang mempesona yang belum banyak diketahui oleh orang Lembata sendiri. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata bekerjasama dengan Universitas Nusa Cendana Kupang, Pada Tahun 2010 lalu telah melaksanakan satu kegiatan penting yaitu mengambil data potensi bawah laut Kabupaten Lembata. 
Ada beberapa titik yang diambil dan salah satunya adalah Pantai Taobaran yang terletak di Kecamatan Lebatukan  Kabupaten Lembata. Dari survei tersebut ternyata membuktikan bahwa sejumlah titik  Pantai di Kabupaten  menyimpan pesona yang Indah dan Menawan dan salah satunya adalaha Pantai Tapobaran. Foto-foto berikut ini adalah hasil jepretan kamera Tim Survey dari Universitas Nusa Cendana yang membuktikan bahwa potensi Wisata Kabupaten Lembata cukup bagus. 
Berbicara tentang pengembangan potensi ini salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah Insfrastruktur yang memadai. Insfrastruktur jalan, jembatan dan pelabuhan udara adalah 3 syarat utama yang harus dibenahi dalam waktu dekat guna mendukung pengembangan kawasan wisata di Kabupaten Lembata ini yang mana salah satunya adalah Pantai Tapobaran di Kecamatan Lebatukan Kabupaten Lembata
Melihat kenyataan yang ada bahwa selama ini Pemerintah dan DPRD belum sepenuhnya mendukung pengembangan Potensi pariwisata Kabupaten Lembata. Mengacu pada hasil penelitian tersebut timbul suatu  pertanyaan mendasar apakah potensi ini akan dibiarkan begitu saja, daripada berbicara tentang potensi yang belum jelas buktinya mengapa kita tidak mengembangkan potensi ini. Foto-foto tersebut dapat menjadi data penting yang bisa mendorong pemerintah daerah Lembata untuk mengembangkan potensi ini. 
Gebrakan yang telah dilakukan oleh SKPD terkait dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata harus didukung oleh semua pihak. Dalam hal ini Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, Pihak swasta dan investor perlu diajak untuk bergandengan tangan mengembangkan potensi ini.  

By...Haryanto Bungan, SS
Staff Perencanaan Program Disbudpar Lembata

Pesona Bawah Laut Waijarang Kabupaten Lembata

Pantai Waijarang di Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata tidak hanya indah pantainya dan pemandangannya saja namun menyimpan pesona bawah laut yang mempesona yang belum banyak diketahui oleh orang Lembata sendiri. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata bekerjasama dengan Universitas Nusa Cendana Kupang, Pada Tahun 2010 lalu telah melaksanakan satu kegiatan penting yaitu mengambil data potensi bawah laut Kabupaten Lembata. Ada beberapa titik yang diambil dan salah satunya adalah Pantai Waijarang Kabupaten Lembata. Hasil yang tak terduga, walaupun di beberapa titik mengalami kerusakan namun ternyata menyimpan pesona yang Indah dan Menawan. 
Melihat kenyataan yang ada bahwa selama ini Pemerintah dan DPRD sangat antipati dalam pengembangan Potensi pariwisata Kabupaten Lembata, maka hasil penelitian tersebut dapat menjadi data penting yang bisa mendorong pemerintah daerah Lembata untuk mengembangkan potensi ini. 
 Gebrakan yang telah dilakukan oleh SKPD terkait dalam hal ini Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lembata dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata harus didukung oleh semua pihak. Dalam hal ini Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, Pihak swasta dan investor perlu diajaka untuk bergandengan tangan mengembangkan potensi ini. 
 Potensi ini sangat menganggumkan dan jika dikembangkan dengan baik akan menjadi sumber potensi yang handal dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis masyarakat.

By...Haryanto Bungan, SS
Staff Perencanaan Program Disbudpar Lembata

Wednesday, April 27, 2011

Rumah Adat dan Ritus Pesta Kacang di Jontona - Ile Ape

Jontona terletak di Kecamatan Ile Ape. Dari Jontana tepatnya di Dusun Lewohala yang terletak di ketinggian Gunung Ile Ape terdapat kampung tua dengan kompleks rumah adat dimana masing-masing mempunyai kelengkapan untuk upacara adat seperti keramik, gading, dll. Disini setiap tahunnya pada bulan September selalu diadakan upacara adat Sora Utan dan Pesta Makan Kacang yang unik yang terpusat pada rumah-rumah adat. Selama upacara pesta kacang, pengunjung dapat menikmati atraksi-atraksi budaya serta dapat menikmati tarian-tarian tradisional beserta perlengkapan-perlengkapan yang digunakan dalam tarian-tarian tersebut. Disamping itu pengunjung juga dapat menyaksikan hasil tenun ikat tradisional Ile Ape serta melakukan hiking dari Desa Jontana menuju Kampung Lewolaha untuk menikmati panorama laut dari Gunung Vulkanis Ile Ape. 
Pesta kacang ini sangat penting maknanya secara kultural maupun religius. Lazim digelar tiap bulan Agustus, seperti sekarang, pesta kacang merupakan momentum untuk menengok kampung lama [lewo nolungen, lewo ulun]. Berada di kampung lama ibarat kembali ke akar kami sebagai lewo alawen, orang Lamaholot. Di sinilah aneka ritual adat Lamaholot [versi Mawa/Nobolekan] digelar secara relatif sempurna.

Kenapa disebut kampung lama? Ceritanya, hingga awal 1970-an penduduk Ile Ape yang berada di kawasan pesisir utara tinggal di kaki Ile Ape alias Gunung Api. Ata kiwan. Sekitar 5-7 kilometer dari pantai. Rumah di kampung lama sangat sederhana. Namanya ORING atau pondok. Tak pakai dinding. Setiap suku atau fam punya gugus rumah sendiri-sendiri. Rumah ini sangat sentral dalam momentum pesta kacang.

Pengaruh modernisasi, perjumpaan dengan dunia luar, kedatangan misionaris Katolik, era Orde Baru... membuat nenek moyang kami perlahan-lahan eksodus ke bawah [pantai]. Pondok-pondok, berikut berbagai perlengkapan adat, termasuk logam-logam peninggalan zaman dulu, ditinggalkan. Kampung lama pun menjadi arena kosong. Hanya ada beberapa orang yang mampir kalau kebetulan lewat.

Kampung lama, bagi anak-anak era 1980-an macam saya, ibarat sesuatu yang angker. Wingit, kata orang Jawa. Punya nilai mistis sangat tinggi. TULA GUDUNG atau upacara-upacara adat sangat khas. Juga ada banyak larangan, misalnya, tidak boleh mengambil sedikit pun salah satu bagian dari atap pondok dari daun kelapa atau alang-alang. Tidak boleh ini, tidak boleh itu.

Suku Hurek Making seperti saya ada tambahan pemali: Tidak boleh makan daging anjing! Kenapa? Ada legendanya sendiri. Kalau makan daging anjing, kata nenek moyang, bisa terkena penyakit kulit yang sulit disembuhkan. Harus bikin upacara di rumah adat di kampung lama dan melakukan macam-macam ritual. Tapi, anehnya, banyak famili kami, fam Hurek, di luar Nusa Tenggara Timur yang makan daging anjing.

"Itu kan makanan, ciptaan Tuhan. Saya ikut Alkitab saja deh," kata Cornelis Hurek, paman saya di Malang. Pak Cornelis ini malah beternak anjing. Banyak sekali! Orang-orang Lembata di Malang dan sekitarnya sering mampir di rumahnya, Kota Lama Gang Buntu 66 Malang, hanya untuk... makan RW. Tahu kan RW? Hehehehe....

Sebelum 1990, pesta kacang berlangsung biasa-biasa saja. Hanya ritual tahunan khusus untuk penduduk di kampung kami, khususnya Mawa dan Nobolekan. Pada era pembentukan 'desa gaya baru' di pesisir pantai, Mawa menjadi Desa Napasabok, sedangkan Nobolekan bergabung dengan Desa Bungamuda. Tapi dulu di kampung lama orang Mawa [Napasabok] dan Nobolekan ini satu kampung alias satu darah. Maka, logat Mawa dan Nobolekan sama saja. Beda dengan logat Atawatung atau Lamawara atau Lewotolok, desa tetangga.

Pesta kacang biasanya berlangsung lebih dari satu minggu. Diawali dengan membersihkan dan memperbaiki rumah adat suku masing-masing. RIE WANAN [tiang kanan] diperciki darah ayam oleh kepala suku. Halaman dan semua bagian penting di kampung lama dibersihkan. Para perempuan mengambil air dari sumur yang ada di bawah [pantai].

Ibu-ibu sibuk memasak. Para bapak yang pintar memancing atau menjala ikan ke pantai. Semua keluarga urunan lauk-pauk, gotong-royong luar biasa. Saya biasanya bantu menganyam ketupat. Ini makanan pokok pesta kacang. Simpanan kacang panjang [merah] di LEPO, wadah anyaman dari daun lontar, dikeluarkan. Kacang ini nantinya dicampur dengan jagung, dibuatlah ketupat. Komposisi kacangnya cukup besar.

Dari sinilah muncul istilah PESTA KACANG. Yah, kacang panjang dan kacang hijau memang makanan penting di Ile Ape. Ibu-ibu tidak pernah memasak nasi jagung 100% atau beras 100%, tapi mencampurnya dengan kacang sebagai NALINGEN. Tentu kacang direbus dulu sampai matang, baru ditanak dengan jagung menjadi nasi jagung.

Jadi, nenek moyang di Ile Ape sebenarnya secara tidak sadar mengkombinasikan karbohidrat dan protein nabati [kacang-kacangan] dalam makanannya. Ditambah sayur merungge alias kelor, plus ikan laut, wah menu itu cukup komplet menurut ilmu gizi. Sampai sekarang banyak orang Ile Ape 'tidak bisa' makan nasi kalau nasinya murni macam di Jawa. Harus ada NALINGEN alias biji-biji kacang panjang.

Pesta kacang yang semula biasa-biasa saja, alamiah, tradisional, lama-kelamaan diketahui orang luar. Termasuk turis Eropa. Orang-orang Ile Ape yang kebetulan menjadi pejabat, mahasiswa, dosen, perantau... menceritakan hal ini kepada orang luar. Lantas, muncul ide untuk menjadikan pesta kacang sebagai event pariwisata budaya.

Monday, April 25, 2011

Jambore Pariwisata Sumba Timur 2011


Setelah Sukses Menjadi Juara I pada Jambore Pariwisata Tahun 2010 di Rote Ndao Kini Kabupaten Lembata Bersiap untuk Menjadi yang terbaik lagi pada Jambore Pariwisata NTT di Sumba Timur Pada Bulan Oktober Mendatang.

Pada acara penutupan Jambore Pariwisata dan seni Budaya, Pokdarwis, RAKOR Sinkronisai Program Kebudayaan & Pariwisata NTT, di hadiri Bupati Rote Ndao, Sekretaris Daerah kabupaten Rote Ndao,Drs. Agustinus Orageru, Wakil Bupati Alor, Pimpinan DPRD Kabupaten Rote Ndao, Pimpinan SKPD Lingkup Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, para Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab/Kota se – NTT dan unsur Muspida Kabupaten Rote Ndao.

Acara diawali dengan pembacaan laporan panitia yang menyampaikan bahwa Jambore Pariwisata dan Seni Budaya, Pokdarwis, RAKOR Sinkronisasi Program Kebudayaan & Pariwisata NTT tahun depan akan berlangsung di Kabupaten Sumba Timur.

Pengumuman hasil  Jambore yang menempati Juara I terbaik dari Kabupaten Lembata ,juara II terbaik kabuapten Rote Ndao, Juara III terbaik kabupaten Timur Tengah Utara,juara IV Kabupaten Sumba Barat, Juara V kabupaten Alor dan Juara Favorit dari Kabupaten Manggarai.

Juara cerdas cermat sadar pariwisata yang menempati juara I dari Pokdarwis ITA ESA asal Kabupaten Rote Ndao, juara II dari Pokdarwis KASIH asal Kota Kupang, juara III dari Pokdarwis INE MBELE asal Kabupaten Manggarai

Dan  dalam sambutan ini Bupati Rote Ndao, Drs. Leonard haning, MM,  mengatakan bahwa Jambore merupakan wadah untuk pelestarian / peningkatan seni budaya itu sendiri dalam peningkatan pembangunan Kepariwisataan di Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini terlaksana atas kerja sama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao,Pemerintah Kab/Kota se-Nusa Tenggara Timur dan sangar Budayawan.selama 2 hari kegiatan ini berlangsung telah menampilkan nilai-nilai luhur kebudayaan dan ini perlu dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus.

Sebelum mengakhiri sambutan ini, Bupati Rote Ndao secara resmi menutup Jambore Pariwisata dan seni Budaya, Pokdarwis, RAKOR Sinkronisasi Program Kebudayaan & Pariwisata Nusa Tenggara Timur dengan di tandai pemukulan tambur, dan acara di lanjutkan dengan penyerahan hadiah kepada para juara. Edo

PNPM Mandiri Pariwisata Kabupaten Lembata Tahun 2011


Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur mendapat bantuan dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Pariwisata Tahun Anggaran 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Republik Indonesia.

Kepala Desa Belabaja Alfons Prawin Pukan mengemukakan hal itu dalam keterangannya kepada media ini melalui telepon selular (handphone) dari kantor Desa Belabaja, Dusun Kluang, Lembata, Rabu, 1/3 2011 siang.

“Beberapa waktu lalu Pak Kepala Dinas Pariwisata Lembata bersama staf tiba di Kluang, guna bersama-sama masyarakat mempersiapkan pembentukan kelompok  masyarakat dalam menyambut program bantuan tersebut. Ini menjadi kebanggaan bagi kami masyarakat di kampung karena pemerintah care dengan kami,” ujar Alfons Prawin.

Sebelumnya, menurut Prawin, pihaknya mendapat informasi desa Belabaja dan Lamalera A di Lembata merupakan dua dari 27 desa di Propinsi NTT masuk dalam rencana wilayah sasaran PNPM Mandiri Pariwisata Tahun Anggaran 2011 dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Informasi itu dikemukakan anggota Komisi X DPR RI asal NTT Dr Jefirston Riwu Kore, MM usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) komisinya dengan jajaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata yang dipimpin Menteri Jero Wacik di Ruang Rapat Komisi X, Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin 13/12 2010) malam.

Menurut Jefri, informasi yang diterima menyebutkan bahwa Tahun Anggaran 2011, sebanyak 27 desa di NTT mendapat alokasi anggaran PNPM Mandiri Desa Wisata.

“Ini merupakan berita baik dalam rangka ikut memajukan dan mengembangkan pariwisata Nusa Tenggara Timur,” ujar Jefri Kore kepada wartawan usai menghadiri Rapat Paripurna DPR di Gedung Nusantara III, Senayan, Jakarta, Selasa (14/12 2010).

Menurut legislator yang juga membidang masalah pariwisata, 27 desa tersebut tersebar di 11 kabupaten/kota. Desa-desa di 27 kabupaten yaitu Desa Koposili, Pemo, dan Nduaria di Kecamatan Kelimutu dan Desa Wologai Tengah di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende.

Kemudian Desa Wae Sano, Cunca Lolos, dan Liang Dara di Kecamatan Sononggoang dan Desa Labuan Bajo, Komodo, Pasir Panjang, Desa Batu Cermin di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Kemudian Desa Satarlenda, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai dan Desa Nangalabang, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Di Lembata adalah Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun dan Desa Lamalera A di Kecamatan Wulandoni. Sementara itu di Kabupaten Flores Timur adalah Desa Sinar Hadung dan Desa Bantala, Kecamatan Tanjung Bunga.

Sementara Kota Kupang kebagian satu desa yaitu Desa Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima. Di Kabupaten Rote Ndao masing-masing Desa Nembrala dan Boa di Kecamatan Rote Barat. Sementara itu Kecamatan Kakolo Mesak, Kabupaten Belu adalah Desa Fatuketi, Kenebibi, dan Dua Laos.

Kemudian Desa Rindi di Kecamatan Rindi Umalulu dan Desa Londa Lima di Kecamatan Panda Wai, Kabupaten Sumba Timur. Juga Desa Fatumnasi dan Boto di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengemukakan, PNPM Mandiri Bidang Pariwisata Tahun Anggaran 2011 didukung anggaran sebesar Rp. 61,7 miliar untuk mengembangkan 569 desa wisata di 33 propinsi.

“Jumlah ini mengalami peningkatan anggaran sebesar 315,19 persen dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp. 19.575.000.000 untuk 200 desa wisata di 29 propinsi di Indonesia,” kata Jero Wacik.

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Tahun Anggaran 2011 mengalokasikan anggaran penataan dan pembangunan pariwisata melalui Program Peningkatan Penyiapan Infrastruktur untuk Penambahan Destinasi Wisata dengan dukungan anggaran sebesar Rp. 4 miliar untuk 12 destinasi wisata di kabupaten/kota seluruh Indonesia. (Joze Sanga, kepala dusun B Desa Belabaja)

Sail Indonesia 2011

Satulagi event kelas internasional siap digelar di Kupang. Sail Indonesi 2011 siap digelar dengan hadirnya 120 yacht (kapallayar) dari 20 negara. Kapal-kapal ini akan melintasi 11 kabupaten di NTT, termasuk Kota Kupang sebagai pintu gerbang. Pimpinan Yayasan Cinta Bahari Indonesia selaku penyelenggaraan Sail Indonesia, Raymond Lesmana kepada wartawan di Kupang, Senin (18/4), menjelaskan Sail Indonesia ke-9 tahun ini akan melewati 13 provinsi di Indonesia, salah satunya NTT sebagai destinasi pertama setelah start dari Darwin, Australia.

Raymond mengatakan, dijadwalkan ke-120 kapal tersebut sudah masuk di Kupang pada tanggal 27 juli 2011.Sebanyak 11 kabupaten yang kan disinggahi kapal-kapal layar tersebut, yakni Kota Kupang, Alor, Lembata, Ende, Ngada, manggarai Barat, Rote Ndao, SabuRaijua, Sumba Timurdan Sumba Tengah (jadwal lihat grafis).

Dikatakan, Sail Indonesia hingga saat ini menjadi sail terbesar di Indonesia. Sail ini sudah Sembilan kali digelar dan delapan kali menyinggahi NTT. Menurut Raymond, NTT sebagai pilihan karena diyakini bahwa destinasi wisata di NTT justru sangat potensial. “Potensi wisata NTT lebih baik dari Bali.Hanya bagaimana me-managenya saja,” kata Raymond.

Dikatakan, Sail Indonesia 2011 ini akan lebih mearih kalau setiap kabupaten/kota yang menjadi destinasi merespon dengan baik. Tidak sekadar menyambut, tapi harus kreatif untuk meniptakan even-even yang menarik perhatian peserta sail. “Jadi kami minta kepada kabupaten/kota agar kalau mau buat even saat sail ini maka informasikan kepada kami terlebih dahulu,” kata Raymond.

Sementara itu, Kepala Bidnag Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT, Obaldus Gogi, mengatakan dalam rangka Sail Indonesia 2011 ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT menggelar even East Nusa Tenggara Epo (Entex) yang akan berlangsungpada 26 sampai 30 Juli di Kota Kupang. “Kita sudah siapkan evenya, sehingga akan semakin menyemarakkan kegiatan ini,” kata Obaldus.

Terkait ini, Obaldus menjelaskan, pihaknya masih sementara berkoordinasi dengan dinas teknis terkait turut menyukseskan Sail Indonesia 2011. Sebab, menurutnya, Sail Indonesia ini menjadi salah satu ajang promosi wisata NTT.Apalagi, saat ini Indonesia dan NTT khususnya sedang gencar-gencarnya mempromosikan komodo sebagai salah satu keajaibandunia.

Untuk menyukseskan kegiatan akbar ini, digelar pertemuan antara pihak Yayasan Cinta Bahari Indonesia, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTT dan kabupaten/kota yang menjadi destinasi peserta Sail Indonesai 2011 ini. Dalam rapat tersebut dibahas persiapan-persiapan setiap daerah menyambut kedatangan para peserta.
Sumber : Timor Express, Rabu 20 April 2011 

Monday, June 7, 2010

Festival Baleo 2010


Festival Baleo, telah dilaksanakan dengan sukse pada bulan oktober 2010 di  Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, merupakan upaya masyarakat setempat untuk mempertahankan budaya berburu paus sebagai bagian dari kehidupan, adat, dan mata pencaharian mereka.

Festival yang melibatkan tujuh kecamatan di Lembata itu diisi dengan ritual Batu Paus, atraksi penangkapan paus, pentas seni dan budaya, pemutaran film dokumenter dan ditutup dengan pawai obor.

"Laut ada di depan kami dan sejak dulu nenek moyang kami punya budaya penangkapan paus," kata Ketua Adat Suku Lamalera, Abel Beding, Jumat (28/10).

Warga lamalera, kata Abel, hidup dengan paus. Hasil tangkapan paus biasanya dibarter dengan hasil pertanian warga di desa tetangga. "Paus kami tukar dengan jagung, beras dan hasil pertanian lainnya utk kebutuhan sehari-hari," katanya.

Selain itu, kulit atau daging paus juga dijual warga untuk membiayai sekolah anak mereka. "Kami jual daging paus untuk menyekolahkan anak-anak. Setelah berhasil, anak akan buat rumah untuk kami," katanya.

Namun, budaya itu kini terancam hilang karena tahun lalu pemerintah Indonesia, atas usul Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur, menetapkan Laut Sawu sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Tujuannya untuk melindungi beberapa biota dari kepunahan, seperti paus, dan penyu. Kajian dan sosialisasi rencana penetapan kawasan tersebut sebagai Taman Nasional Laut Sawu telah dilakukan sejak enam tahun lalu.

Namun, penetapan itu, kata Abel, akan menyengsarakan warga Lamalera. "Warga Lamalera sudah sampaikan secara tegas kepada pemerintah untuk menolak konservasi di Laut Sawu," kata Abel. "Kami hidup dari mana kalau laut di depan kami sudah dijual ke pemerintah," katanya

Monday, April 12, 2010

Pantai Waijarang Lewoleba



Pantai Waijarang di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, Lembata merupakan pantai yang punya panorama yang indah. Pasir putih yang terbentang luas dihiasi riakan ombak yang agak keras memecah bibir pantai, menjadi obyek tersendiri.

Tak heran setiap hari libur atau hari Minggu, ratusan warga Kota Lewoleba dan sekitarnya tumpah ruah ke pantai itu, sekadar melepas lelah dan menikmati indahnya pantai dan riakan gelombang tersebut.

Melihat animo masyarakat yang tinggi terhadap indahnya pantai yang letaknya kurang lebih 10 kilometer arah barat Kota Lewoleba, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lembata mengalokasikan sejumlah dana untuk pembangunan sarana dan prasarana pendukung.

Pantai Waijarang berhadapan dengan Desa Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, dibatasi lautan, merupakan salah satu alternatif wisata pantai terbaik di Kota Lewoleba. Jaraknya relatif dekat dari Lewoleba ke arah barat sekitar delapan kilometer dengan kondisi jalan aspal. Meski sebagiannya sudah berlubang, tetapi bisa ditempuh sekitar 20-25 menit menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Keindahan pantai Pasir Putih, laut yang bersih dan ombak pantai relatif keras menjadikan tempat ini diminati pengunjung.

Pada hari Minggu, liburan Hari Raya Natal, Tahun Baru, Paskah dan Lebaran, lokasi pantai wisata ini menjadi tujuan wisata bagi warga Kota Lewoleba.warga menghabiskan waktu sekitar setengah hari di tempat ini. Mereka datang berkelompok dalam jumlah banyak 20-50 orang atau dalam kelompok kecil dan keluarga. Para pengunjung dari berbagai kelompok usia, balita sampai orang dewasa.

Tuesday, April 6, 2010

Sarung Tradisional Lembata

Tenun Lembata mempunyai ciri khas dengan dua atau tiga sambungan. Kain ini dipergunakan sebagai mas kawin dalam upacara perkawinan dari pihak keluarga perempuan, dan dipertukarkan dengan gelang-gelang dari gading gajah yang sangat berharga yang diberikan oleh keluarga pihak laki-laki. Semua jenis mas kawin ini merupakan warisan yang diberikan turun-temurun.

Selain Lio, daerah lain yang terkenal dengan kain tenun ikatnya adalah Lembata. Di daerah ini, khususnya daerah Lamalera menurut Ruth Barnes dalam tulisannya The Brideweakh Cloth of Lamalera Lembata, disebutkan bahwa hanya kain sarung untuk wanita yang memakai motif ikat yang disebut mofa. Kain sarung wanita itu sendiri disebut kewatek. Kain sarung untuk laki-laki tidak memakai motif ikat. (Kain sarung untuk wanita berfungsi sebagai pemberian dan pihak perempuan kepada pihak laki- laki dalam upacara perkawinan).

Ada dua jenis tenunan kain sarung ikat Lembata yaitu kewatek nai rua dan kewatek nai teh. Kewatek nai rua adalah kain sarung yang tenunannya terdiri atas dua bagian kain yang digabungkan. Kewatek nai telo adalah kain yang paling tinggi nilainya. Kain ini terdiri atas tiga bagian yang disambungkan menjadi satu sarung

Wednesday, March 31, 2010

Pantai Lewolein dan Pantai Nuhahera


Pantai rekreasi ini sangat indah dan memiliki keistimewaan yaitu komposisi letak dan panorama yang bisa membuat pengunjung berdecak kagum. Di bagian timur pantai terdapat tanjung kecil yang ditumbuhi pohon bakau yang besar dan rindang dengan bebatuan yang berserakan, cocok untuk tempat duduk untuk menyaksikan sunset dari Puncak Gunung Ile Ape. Di bagian barat terbentang pasir putih keabu-abuan dengan ombak yang tenang sangat cocok untuk mandi dan berjemur di atas pasir.

Sementara itu di bagian pantai, Teluk Lewolein yang menjorok ke laut dengan lambaian daun nyiur akibat tiupan angin sepoi-sepoi. Bagian tengah cocok untuk rekreasi keluarga dengan membentangkan tikar dibawah pohon-pohon kelapa sambil melihat pemandangan pantai dengan anak-anak berenang dan bermain serta bergembira bersama keluarga. Di depan pantai terdapat pula Pantai Nuhanera dengan taman laut yang indah dan cocok untuk wisata laut )snorkling, diving).

Dari Lewoleba dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat kurang lebih 2 jam dengan menempuh jarak kurang lebih 21 km. Dan sebagai home stay, pengunjung dapat menyewa rumah-rumah penduduk.

Friday, March 26, 2010

Pantai Pasir Putih Bean


Pantai Bean di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan surga bagi para wisatawan domestik dan mancanegara. Tatkala cahaya mentari retak di horison langit barat, Bean menyuguhkan panorama alam nan indah. Pantai yang diyakini sebagai firdaus terakhir ini seolah menguak rahasia keagungan Tuhan atas tanah Lembata.

Tapi, kini salah satu pantai di pulau yang kesohor dengan perburuan ikan paus itu berada dalam bayang-bayang kehancuran lingkungan oleh PT Merukh Lembata Coopers. Anak perusahaan Merukh Enterprise Corp milik raja tambang nasional Yusuf Merukh itu bakal melebarkan sayap usahanya di Pulau Lembata setelah hengkang dari Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sulawesi Utara menyusul protes masyarakat akibat tercemarnya Pantai Buyat yang merupakan sumber kehidupan masyarakat.

Gambar di atas merupakan salah satu rekaman fotografer Justice and Peace and Integrity of Creation (JPIC) OFM Indonesia. JPIC adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang kini ikut membantu mengadvokasi masyarakat atas penolakan terhadap rencana Pemerintah Kabupaten Lembata mengijinkan Merukh Lembata Coopers melakukan eksplorasi emas di wilayah Lebatukan dan Kedang. Semua itu dilaksanakan atas nama kelangsungan hidup serta kelestarian alam dan lingkungan di Lembata.

Namun, jika rencana pertambangan itu dipaksanakan demi menggelembungkan pundi-pundi segelintr pejabat dan menambah dollar sang investor, maka bukan tidak mungkin Pantai Bean dengan untaian pasir putih nan indah bakal terperengkap dalam bencana lingkungan.

“Kami hidup dengan jagung dan kemiri. Bukan emas. Saya berhasil menyekolahkan empat anak saya jadi sarjana bukan dari emas tetapi kemiri, kopi, dan ubi-ubian. Saya beryukur satu anak saya meraih gelar S-2. Bukan dari emas tapi kemiri dan jagung,” kata Ana Noe, seorang janda asal Leragere, Lebatukan. (Ansel Deri)

Thursday, March 18, 2010

Pemandangan Pantai Waijarang

Pantai rekreasi ini terletak di Desa Waijarang kurang lebih 10 km dari Lewoleba yang dapat ditempuh baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Keindahan panorama pantai di dukung dengan pemandangan bukit yang indah dan selat Boleng yang sempit. Di tempat tersebut cocok bagi pengunjung untuk menikmati wisata pantai seperti : Ski air, berenang, berjemur, camping, volly pantai, hiking serta pengunjung juga dapat dihibur dengan menikmati atraksi-atraksi budaya.

Pengunjung juga dapat berlayar dengan perahu untuk menikmati panorama pantai yang indah. Obyek ini mempunyai prospek yang luar biasa untuk dikembangkan sehingga Pemda Kabupaten Lembata dalam hal ini Dinas Perhubungan dan Pariwisata dalam programnya akan membangun dan membenahinya menjadi Taman Rekreasi Pantai dalam Tahun Anggaran 2002. Pengunjung dapat menginap di hotel-hotel di Kota Lewoleba.

Wednesday, March 17, 2010

Tradisi Penangkapan Ikan Paus di Lamalera


Tradisi penangkapan paus oleh masyarakat di Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata ini telah berlangsung sejak lama sejak nenek moyang suku lamalera menempati daerah tersebut. Bahkan katanya tradisi ini sudah ada sejak abad 16.

Perburuan ikan paus ini dilakukan oleh penduduk Pria Lamalera yang sudah dewasa serta dianggap memiliki kemampuan (biasanya setiap keluarga mewakilkan satu anggota keluarganya). Sebelum berburu, mereka semua memanjatkan doa-doa kepada Tuhan agar diberi keberhasilah dalam perburuan Ikan paus. Presentasi keberhasilan penangkapan ikan paus ini tidak bisa dibilang tinggi, karna metode perburuan yang dilakukan memang menggunakan cara tradisional. Yaitu dengan menancapkan tombak ke badan ikan paus.

Perburuan paus biasanya dimulai pada bulan Mei, perburuan dilakukan menggunakan perahu yang terbuat dari kayu yang disebut "Paledang" . Orang yang bertugas menikam paus disebut "Lama fa", Lama fa nantinya akan berdiri diujung perahu dan untuk menikam paus lama fa akan melompat dan menikamkan tombak "tempuling" pada paus.

Daging paus yang diperoleh dari perburuan ini nantinya akan dibagikan kepada seluruh penduduk sesuai besar kecilnya jasa wakil anggota keluarga mereka dalam proses perburuan pausnya. Selain hasil daging, masyarakat juga memanfaatkan minyak paus sebagai minyak urut, bahan obat dan bahan bakar untuk pelita atau lampu teplok.

Walaupun sudah ada beberapa konversi yang menyatakan pelarangan terhadap perburuan paus tersebut, tapi Tradisi berburu paus ini sampai sekarang masih tetap dipertahankan. Para penduduk lamalera mengatakan bahwa paus yang mereka buru sudah mereka konservasi terlebih dahulu, sehingga paus yang masih hamil serta masih terlalu kecil tak akan diburu, hal itu dilakukan untuk tetap menjaga populasi paus di daerah lamalera. lagipula bukankan cara yang kami lakukan masih tradisional dan bukan menggunakan racun seperti yang banyak dilakukan nelayan modern. Penduduk Lamalera juga mengklaim bahwa hasil dari perburuan paus itu tidak sampai 20 ekor per tahun, sehingga tidak akan terlalu mempengaruhi populasi ikan paus.

Kini para orang Tua di Lamalera berusaha keras untuk melatih anak mereka menjadi seorang lama fa, Hal ini disebabkan karna makin hilangnya kesadaran para pemuda lamalera dalam mempertahankan tradisi berburu paus. Sehingga dengan melatih anak-anak, diharapkan tradisi ini kan tetap lestari sampai kapanpun

Welcome to Blog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata


Blog Ini Sebagai Sarana Untuk mempromosikan Sektor Pariwisata dan Kebudayaan di Kabupaten Lembata..Budaya dan Keindahan Alam yang unik dan masih asli..perlu di kembangkan dan dibangun guna menunjang pembangunan di Kabupaten Lembata